Khalifah Umar bin Khattab ra. dalam kesederhanaannya

 

Tempo hari Khatib Jum’at mengisahkan tentang Khalifah Umar yang setiap kali Shalat Jum’at selalu terlambat.

Dalam hati saya langsung reflek menebak-nebak, bahwa setelah ini sang Khatib akan mengatakan, bahwa Khalifah Umar melakukan hal tersebut sebagai bentuk ijtihadnya, sebagai sebuah kesengajaan untuk memberikan waktu bagi para jama’ah agar bisa berkumpul di Masjid guna melaksanakan “hari raya” mingguan ini. Layaknya Khalifah Utsman yang menambah Adzan Jum’at menjadi dua kali agar memberi “Double Warning” supaya orang2 segera meninggalkan urusan dunia mereka dan bergegas menuju ke masjid.

Tapi tebakan saya itu rupanya salah!

Khatib Jum’at tersebut lalu melanjutkan, Khalifah Umar saat terlambat ke masjid untuk shalat Jum’at itu rupanya mengundang tanya bagi para jamaah. Awalnya jamaah masih memaklumi jika Khalifah Umar terlambat naik mimbar satu dua kali. Tapi ini sampai berkali-kali, ada apa gerangan?

Setelah ditanyakan pertanyaan tersebut, Khalifah Umar kemudian menjelaskan, “Demi Allah, aku tidak punya baju melainkan ini saja, maka setiap Jum’at tiba, di pagi hari aku mencuci baju ini, agar ketika shalat Jum’at aku bisa mengenakannya dalam keadaan bersih.”

Begitulah kira2 yang disampaikan sang Khatib. Rupanya, Khalifah Umar kerap terlambat naik mimbar dikarenakan menunggu bajunya yang belum kering.

Bayangkan, seorang kepala negara hanya memiliki satu baju (?) dan demi mengamalkan sebuah sunnah ia harus bersusah-payah “kejar-tayang baju-kering” sedemikian rupa. Kalo kita? Baju puluhan stel pun masih terasa kurang. Itu pun kalo berangkat Jum’atan yang dipakai malah busana tidur atau kostum untuk belanja pergi ke pasar..

Saya belum tahu sumber referensi dari kisah ini memang, tapi mendengar alur ceritanya terasa senafas dengan karakter dan kepribadian sosok Khalifah Umar yang selama ini didapatkan dari riwayat-riwayat muktamad (otentik).

Dialah Khalifah Umar… Khalifah yang saat berpatroli di pasar Madinah, tampak begitu banyak tambalan jahitan di bajunya. Khalifah yang saat ditemui oleh pembesar Persia justru sedang leyeh-leyeh tiduran di bawah pohon tanpa penjagaan bagaikan rakyat jelata yang tak tampak sesuai ekspektasi mereka sebagai sosok penakluk Romawi dan Persia.

Khalifah yang “Sadis” terhadap perutnya sendiri karena pernah berkata kepadanya saat masa2 paceklik, “Kamu mau keroncongan ataupun tidak, itu terserah kamu. Demi Allah, kita tidak akan makan kecuali ini (roti dan air) sampai rakyat yang lainnya bisa makan.”

Rahimakallah Yabnal Khattab…

Engkau telah membuat seluruh wanita di planet ini kesulitan untuk bisa melahirkan lelaki sepertimu lagi…

Disadur dari FB Ust. Yusuf Al-Amien dengan sedikit editing.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *